Rabu, November 23

Tangisan di Tepi Jalan

sore kemarin setelah usai kerja, tepat pukul 16.00 WIB... aku pulang melalui jalan belakang...
qodorullah, saat di jalan ku temui seorang wanita dg kain jilbab putih... potongan batik hijau dan rok hijau...

ia menggayunkan helm putih yang dijinjingnya.. aku menepi kan diri dan motor"ku"... ku coba sapa..
"yuk mba... mau ke mana?" kutawari dg senyum tulus (walau jujur aku agak ilfeel dg penampilan wanita begituan.. hati sering kali berguman "ikhwani" tiap bertatapan dg stelan begitu)... terlepas dari gumamanku aku tetaplah wanita yang tahu rasanya jika berjalan sendirian dg gontai begitu tentu tak nyaman...

 sesaat setelah ku tawari sang wanita mengangkat tangannya, memberi isyarat "tidak terimakasih".
aku sempat melonggo dan ngedumel "wah tega nih, masa gak mau ditolong ama yang pake baju beginia sih?" terus aku gas pelan.. ku hampiri lagi... "hah" aku terkejut... karna ternyata ia menangis....
"kenapa mba?" tanyaku dg ragu... dg menahan tangis dan menutupi hidung plus mulutnya, ia menggeleng...

ku stopkan motor dan ku tarik tanggannya mendekatiku, dan ku elus punggungnya.. (reaksi yang spontan).... ia berkata lirih "keluarga saya gak jemput" aduhai... keluh lidah.. saya faham apa yang anda rasakan mba.....

setelah adegan tersebut mulai tidak lagi mendrama..maka kuajak ia menduduki jok belakang... "ayo, kemana kita mba?"
"masih sesegugkan ia menjawab, "purnama"..
ku jawab, "lho purnama kan gak nampak sore-sore gini mba"..tapi jawaban dalam hati...

aku diam sampai tak lagi ku dengar suara tangisnya yang lirih...
sesaat ku tanya, "siapa namanya mba?"
 "kak Narti",sahutnya
"oh...mba Narti",
"adik namanya siapa?" tanyanya yang kusambut girang... kenapa tidak? ia menyapaku dengan kata adik... pertanda aku kelihatan muda tho? hehehe.... dg senang ku keluarkan kata "saya Rara mba"..
"Zahra?" ulangnya
"Rara" tegasku... sering kali soal nama ini menjadi bahan keraguan lawan bicaraku... seakan nama Rara itu nickname.... huhuhuhuhuu.... dahulu bahkan ada yang mengira namaku Wiraswita tok... i,,,, gak rela.... jika ada yan bilang "apalah arti sebuah nama?" maka akan ku jawab lantang "do'a".

ia melanjutkan.... "oh bukan singkatan ye? kak Narti  kire itu bukan name aslinye"
logat melayu nya mulai keluar...
ia sudah mulai tenang... aku diam... kemudian terus dialog saling mengenal... hingga tibalah dialog...
"kak Narti ni tinggal dengan mertue bah dek, udah ade bayi satu..adek udah berkeluarge ke?"
"hm..belum kak...heheheh", jawabku cenggegesan....
padahal waktu ia bilang ia udah tinggal ama mertua, maka yang terbesit adalah, "ke mana suaminya?"

aku coba hati-hati bertanya, "mba tadi dari mana?"
"kak Narti tadi pulang kerje dek"
"kerja di mana mba?"
" tiiiiiiiiiiiiiiiiiiitt..... (tidak diplublish), saya ngajar kelas 1 dan 2 nya"
"oh pulangnya sorekah?"
kemudian ia menangis lagi.... adooohh...aku salah nanya..dumelku....
ia jawab dengan derai air mata (lagi), "pulangnya jam setengah dua dek, kak Narti nunggu tapi ndak dijemput-jemput, jadi tadi kak narti rencane mau jalan sampai rumah."
aku diam seribu bahasa.... walau pandainya cuma beberapa bahasa ajah...... dan dugaanku ia seorang aktivis ikhawani terjawab dengan jelas dari tempat kerja yang disebutkan.... jelas itu 1 diantara banyaknya wadah mereka untuk memperluas jaringan dakhwahnya

setelah jalan berliku-liku.... tiba juga dipojokan jalan.. ada tembok hijau cerah... tampak dari luar ada seorang lelaki paruh baya bersama anak kecil.... ku lihat ada 2 sepeda motor... ku ulangi dua sepeda motor....
ku paskan posisiku untuk berhenti dan sang mba tadi pun turun..... ia menjulurkan tangan tanda "mari salaman"... aku sambut tapi tidak dengan salaman gaya dibalik-balik telapaknya (gaya aktivis bagiku).. cukup ku genggam erat 1 kali dan ku lepas... ku lihat wajahnya... yang lusuh ditambah merah di mata dan merah di hidung.... "tak tega..."


dalam perjalanan pulang aku berdialog sendiri
perempuan itu senang membahasakan dirinya yah? buktinya sepanjang jalan tadi... ia terus menyebut dirinya kakak walau aku pun sengaja meng-mba-kannya... hehehehe
kemudian
alangkah kasihanya nasib wanita bagai sapi betina-sapi perahan.... karna ngak ada kan sapi perahan itu sapi jantan??? lho kok jadi disamain dengan sapi?? karna sama-sama mamalia?? silakan fikirkan sendiri.. karna sapi tidak berfikir...
dan setelah kemudian
wanita, keluarga dan kerja..... andai mana bila karna bekerja akan membuat susah diri kalian (wanita) untuk melaksanakan kewajiban kalian di rumah.. maka JANGAN bekerja.... lihat syarat-syarat dan ketentuannya.... jangan sampai mau menzolimi diri sendiri......
 serta
catatan untuk laki-laki yang tiada cacat pada akal maupun agamanya.... mahrom perempuan adalah tanggung jawab anda dunia wal akhirat... maka berfikirlah! jaga hak mereka , bukankah tak patut kalian melalaikan apa-apa yang menjadi haknya.... padahal kalian mengambilnya diatas janji yang kuat... jika sekiranya tak mampu jangan dipaksa... itu ngoyo namanya bung nanti anda jadi loyo.....

oalah,,,, nb untuk para Pria emang gada abisnya.... alnya kalian gitu siiiihh..... wanitakan ingin dimengerti.....