Jumat, November 23

imajenasi tinggi itu

imajenasi tinggi itu...

ketika aqyu main bersama adik bungsuqyu di teras rumah,,, tiba-tiba ada angin puyuh yang menerbangkan aqyu ke puncak gunung.... saat aqyu nangis minta tolong... tampak dari kejahuan ada raja brewokan pakai kuda platina.... eh ditengah perjalanan ada cewek sesampai nari-nari pakai cadar india... tapi dahsyatnya si raja brewokan cuek bebek... ia tetap fokus menatap puncak untuk nolongin aqyu....
trus pas sampai puncak dia malah minta nomer hape bapakqyu... untuk ngelamar katanya....
asyiknya imajenasi tinggi 

Kamis, November 22

Kakak

Bismillaah

saya punya kakak namanya Cahya... itu pertama dalam hidup saya memanggil laki-laki dg istilah Kakak... nickname Jayusman dari Yogya.. Sleman tepatnya..
perkenalan kali pertama yang membuat saya ingin cepat dewasa...
Kak Cahya adalah maybe boyfriend dari Cece tetangga saya..
Peliknya hubungan mereka tak perlu saya kisahkan... itu milik orang lain yang juga ternyata berpengaruh di kehidupan bertetangga dan bersekolah saya...
yang akhirnya mereka sekarang masing-masing memiliki buah cinta dari orang lain.....

Kak Cahya begelut di bidang IT... idealismenya untuk tidak mau menjadi PNS memberikan inspirasi besar..
Tingkah Lakunya juga membuatku secara tidak sadar meniru.... pertemuanku padanya hanya 1 kali di Pontianak tentunya.... saya memang tidak banyak cerita dg Kak Cahya, tidak pula banyak kontak, hanya jika saya punya masalah yang sukar untuk diatasi saya mencarinya... untuk konsultasi.... dg catatan khusus saya tidak pernah membawa tema agama padanya... tema ini meragukan... bukan karena merendahkan.. tetapi ada hal mengganjal terkait keislamannya.... walau aku sangat yakin ia dulu adalah seorang muslim.... atau walau sekarang ia tetap mengucapakan salam kepadaku... inginku tanya tetapi... hmm... mungkin belum sekarang...

ingat sekali.. keberadaan Kakak membuat pelamarku dulu sangat cemburu..... itu terasa menyenangkan diawal....dan diakhir itu menjadi bencana...

aku tidak mengadukan ini kepada Kakak.. selain sebab sudah loss kontak juga aku tidak mau memicu prahara lebih lanjut... maklum dg karakter pelamarku dulu tidak mungkin ada defenisi teman diantara seorang laki-laki dg perempuan.... (semoga sekarang ia tahu, laki-laki dan perempuan bahkan lebih dari seorang teman tetapi saudara yang seharusnya saling tolong menolong, toh banyak laki-laki kuketahui menolong wanita yang bukan mahramnya tetapi juga tdk memiliki hubungan khusus melainkan karena sama-sama muslim, ajah)

2 tahun ini aku bisa mengakses komunikasi dg Kakak Cahya... mengharukan dan membahagiakan...

aku kira... panggilan Kakak untuk Kakak Cahya akan menjadi panggilan khas... menjadi satu-satunya dalam hidupku.. karena tidak mudah memanggil laki-laki lain yang bukan saudara dg Kakak... tapi kini ternyata... saya punya 2... (*smile-akhwat07)

sungguh tidak pernah ada dalam planing hidup, tidak terprediksikan... istilah itu tersemat untuk kedua kali dg kenyamanan yang bahkan lebih nyaman dari komunikasi dan feel ku kepada kak Cahya... interaksi terbatas tetapi apa adanya kemudian lancar untuk keterbukaan....Kakak Yaya(k).....

dan kenapa kalau Kakak dari area yang +-senama?


yup... Kakak.....

Kakak....

Kakak....

untuk memanggil suamiku saja, aku tak pernah berniat akan memanggillnya kakak.... mungkin abuya itu rencanaku...

...... ah... kakak.. memang aneka rasa....



Diam


Bismillaah

lebih banyak memilih diam, bukan karena marah tetapi aku masih gamam...
langkah apa, harus bagaimana...

mau dicela, mau dimarah, mau dimaki, mau diapakan aja.. silakan.. tidak akan ada klarifikasi, tidak akan ada berapi-api....

walau mengaku mengerti kondisiku... cuma akuan.. tak masalah...

kemampuan verbal minin bukan berarti bisu, bukan bearti tidak ada suara hati... diam ini hanya pola, sebagaimana pola yg sudah tersedia.... kecuali papaku, dalam sendiripun ia tetap bicara.... 1 kondisi ia diam tenang..... jika duduk berhadapan dg mamaku... mungkin ia sedang menikmati istrinya..... atau kemungkinan yg lain karena ia tak pernah membahas itu....

diam...

suara air..
suara benda-benda yang disapa angin...
gerak-gerak aktifitas lebih terasa.. kental......

diam...

Minggu, November 4

kalian masa yang berlalu

Bismillaah



Makar untuk saya.
Dari awal yg merusak hubungan saya toh juga dia.
Dia membasoka hati saya dengan statement  publiknya yang seakan-akan dia menjadi orang yang berarti untuk my plum.
Dia berhasil membuat sy memprediksi “dia adalah wanita idaman lainnya”.
Dia berhasil membuat sy makan umpan senjata pisikologisnya.
Ah sejahat itu kah dia? Su’udzon kah sy?
Hanya kenapa ia datang sekarang mengadukan hubungannya (semoga memang benar telah ada hubungan) sedang mengalami kesulitan?
Dan kenapa ia mengadukan itu kepada saya?
Dapat dikatakan saya sudah sehat sekarang… kalau dapat perlakuan yg sama seperti dulu tidak dianya bias kambuh juga…
Harapannya saya bias cuek… toh itu hubungan oranglain, pasangannya mau gimana gimana silakan saja kan…. Kenapa saya harus peduli… apa karena saya mantan? Itu ikatan masa lalu… atau karena saya peduli dg lingkungan?  Tapi kalian tidak berada di lingkungan saya.. atau kerena pemahaman agama kalian yang membuat saya merasa perlu berkontribusi? Ah sehebat apa sih agama saya sampai perlu jadi An-Nida..
Cukuplah karena kita sama-sama muslim, saya menolong tapi jangan harapkan saya bertindak heroic (seolah-olah begitu). Saya mungkin akan berdo’a saja… yang baik-baik untuk kalian saudara-saudari saya..

Sebenarnya jika sudah begini saya suka kebawa emosi…
Bagaimana pun dia masa lalu…
Bahkan saya sangat yakin masa kini pun kami tetap sama…
Apa-apa yang sudah dibangun (salah benar) sebagaimana yang ia sendiri tulis tidak hilang bahkan lekat dalam ingatan..
Ia mungkin marah karena ajakan (baiknya) saya tolak kemudian malah mengiyakan lamaran orang lain.
Atau mungkin marahnya ia adalah tidak adanya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sempat ada diantara kita.
Walau sama-sama diam, sama-sama malu, sama-sama gengsi untuk membicarakan hasrat yg masih ada atau tetap ada dan memilih untuk tidakpercaya diri atau dengan keras menolak untuk berfikir positif hingga wal hasil kita sama-sama menggubur keinginan yang ada.
Naifnya lagi kita sama-masa berasusmsi ada orang lain yang lebih pantas dan boleh jadi menjadi obatnya, andaikata begitu itu benar kenapa masih tidak ada undangan pernikahan yang kita antarkan? Saling menunggu kah?
Ragu-ragu….
Kenapa?
Yuk, kita berlapang dada…. Komunikasi aktif sehat sopan bersahaja… jika memungkinkan untuk menghilangkan miss-miss yang ada..
Umur kita tak lagi belasan… waktu semestinya sudah menghampiri kita untuk berubah kearah yang lebih baik…… yuk bicara…..yuk kita mendengar….

Ah tapi juga mungkin tidak bisa ya… karena terhalang oleh status saya yg telah dikhitbah….
Kata khitbah menjadi penghalang ya… halangan  untuk apa si? Apa ada niat membeli diatas belian orang lain… kenapa jadi menelisik hati ya…
Yah kok khitbah menjadi alasan untuk kejujuran..
Yah katanya alasan itu penting yah…
Yah…. biarlah