Bismillaah
*) Ditulis
oleh Ahmad Zainuddin, Jumat,
4 Jumadal Ula 1432 H, Dammam
KSA
http://www.dakwahsunnah.com/2011/12/orang-inilah-yang-istighfarnya-butuh_21.html?spref=fb
Orang inilah yang istighfarnya butuh kepada Istighfar
Pertama,
Istighfar itu Harus Selalu…
قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ تَقِيُّ الدِّينِ أَحْمَد ابْنُ تَيْمِيَّة رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى:
فَالْعَبْدُ دَائِمًا بَيْنَ نِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ يَحْتَاجُ فِيهَا
إلَى شُكْرٍ وَذَنْبٍ مِنْهُ يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى الِاسْتِغْفَارِ وَكُلٌّ مِنْ
هَذَيْنِ مِنْ الْأُمُورِ اللَّازِمَةِ لِلْعَبْدِ دَائِمًا فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ
يَتَقَلَّبُ فِي نِعَمِ اللَّهِ وَآلَائِهِ وَلَا يَزَالُ مُحْتَاجًا إلَى
التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ . وَلِهَذَا كَانَ سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَإِمَامُ
الْمُتَّقِينَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ فِي جَمِيعِ
الْأَحْوَالِ
Artinya:
"Syeikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah berkata:
"Seorang hamba selalu di antara sebuah nikmat dari Allah yang membutuhkan
syukur di dalamnya, dan sebuah dosa yang membutuhkan istighfar di dalamnya,
setiap dari dua perkara ini adalah termasuk perkara-perkara yang selalu
menghampiri seorang hamba, dia masih bergumul di dalam nikmat dan anugerah
Allah dan masih selalu membutuhkan kepada taubat dan Istighfar. Oleh karena
inilah pemimpin keturunan Adam dan orang-orang bertakwa Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam beristighfar di setiap saat." (Majmu' fatawa, 10/88).
Kedua, Jangan istighfar yang butuh kepada istighfar
قال القرطبي رحمه الله: قال علماؤنا: الاستغفار المطلوب هو الذي يحل عقد
الإصرار ويثبت معناه في الجنان، لا التلفظ باللسان. فأما من قال بلسانه: أستغفر
الله، وقلبه مصر على معصيته فاستغفاره ذلك يحتاج إلى استغفار، وصغيرته لاحقة
بالكبائر. وروي عن الحسن البصري أنه قال: استغفارنا يحتاج إلى استغفار.
Artinya:
"Berkata Al Qurtuby rahimahullah: "Ulama kita berkata:
"Istighfar yang semestinya adalah yang melepaskan ikatan-ikatan meneruskan
(dosa), yang tetap maknanya di dalam hati bukan hanya ucapan lisan. Adapun yang
mengatakan dengan lisan "astaghfirullah" sedangkan hatinya
bertekad meneruskan maksiatnya, maka istighfarnya itu membutuhkan kepada sebuah
istighfar (lain), dosa-dosa kecilnya (yang ia perbuat) akan menyusul kepada
dosa besar. Diriwayatkan bahwa Al Hasan Al Bashry berkata: "Istighfar kita
membutuhkan kepada Istighfar". Lihat Tafsir Al Qurthuby.
Artinya:
"An Nawawi rahimahullah: Al Fudahil bin Iyadh radhiyallahu 'anhu
berkata: "Istighfar dengan tidak melepaskan maksiat adalah taubatnya para
tukang dusta". Lihat kitab Al Adzkar, Karya An Nawawi.
قال المناوي: تنبيه سئل أحدهم أيهما أفضل: التسبيح والتهليل والتكبير أو
الاستغفار؟ فقال: يا هذا الثوب الوسخ أحوج إلى الصابون منه إلى البخور، ولا بد من
قرن التوبة بالاستغفار لأنه إذا استغفر بلسانه وهو مصر عليه فاستغفاره ذنب يحتاج
للاستغفار ويسمى توبة الكذابين . انتهى.
Artinya:
"Al Munawi rahimahullah berkata: "Perhatian, seorang ulama
ditanya: "Manakah yang lebih utama: Bertasbih, bertahlil, bertakbir atau
istighfar?", dia menjawab: "Wahai kamu, pakaian yang kotor lebih butuh
kepada sabun daripada minyak wangi, dan taubat harus dibarengi dengan
istighfar, karena jika dia beristighfar dengan lisannya padahal dia terus
melakukan (dosa)nya, maka istighfarnya adalah dosa yang membutuhkan kepada
istighfar dan dinamai dengan taubatnya para tukang dusta". Lihat Fath Al
Qadir, karya Al Munawi.
قال ابن رجب: فأفضل الاستغفار ما اقترن به تركُ الإصرار ، وهو حينئذ
توبةٌ نصوح ، وإنْ قال بلسانه : أستغفر الله وهو غيرُ مقلع بقلبه ، فهو داعٍ لله
بالمغفرة ، كما يقول : اللهمَّ اغفر لي ، وهو حسن وقد يُرجى له الإجابة ، وأما من
قال : توبةُ الكذابين ، فمرادُه أنَّه ليس بتوبة ، كما يعتقده بعضُ الناس ، وهذا
حقٌّ ، فإنَّ التَّوبةَ لا تكون مَعَ الإصرار.
Artinya:
"Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "jadi, istighfar paling
utama adalah yang dibarengi dengan meninggal sikap meneruskan (melakukan dosa),
dan dialah yang disebut Taubat Nasuh, dan jika mengucapkan dengan lisannya:
"Astaghfirullah, dan dai tidak melepaskan dengan hatinya, maka dia
(seperti) orang yang berdoa kepada Allah meminta ampunan, sebagaimana dia
mengucapkan: "Ya Allah ampunilah aku", ini baik dan diharapkan
baginya pengabulan (atas doanya), adapun yang berkata: "Taubatnya para
tukang dusta, maka maksudnya adalah bukan taubat sebagaimana yang diyakini oleh
sebagian orang, dn ini adalah sebuha kebenaran, karena sesungguhnya taubat
tidak akan terjadi dengan meneruskan (maksiat). Lihat Jami' Al Ulum wa Al
Hikam, karya Ibnu Rajab.
http://www.dakwahsunnah.com/2011/12/orang-inilah-yang-istighfarnya-butuh_21.html?spref=fb
