Minggu, November 4

kalian masa yang berlalu

Bismillaah



Makar untuk saya.
Dari awal yg merusak hubungan saya toh juga dia.
Dia membasoka hati saya dengan statement  publiknya yang seakan-akan dia menjadi orang yang berarti untuk my plum.
Dia berhasil membuat sy memprediksi “dia adalah wanita idaman lainnya”.
Dia berhasil membuat sy makan umpan senjata pisikologisnya.
Ah sejahat itu kah dia? Su’udzon kah sy?
Hanya kenapa ia datang sekarang mengadukan hubungannya (semoga memang benar telah ada hubungan) sedang mengalami kesulitan?
Dan kenapa ia mengadukan itu kepada saya?
Dapat dikatakan saya sudah sehat sekarang… kalau dapat perlakuan yg sama seperti dulu tidak dianya bias kambuh juga…
Harapannya saya bias cuek… toh itu hubungan oranglain, pasangannya mau gimana gimana silakan saja kan…. Kenapa saya harus peduli… apa karena saya mantan? Itu ikatan masa lalu… atau karena saya peduli dg lingkungan?  Tapi kalian tidak berada di lingkungan saya.. atau kerena pemahaman agama kalian yang membuat saya merasa perlu berkontribusi? Ah sehebat apa sih agama saya sampai perlu jadi An-Nida..
Cukuplah karena kita sama-sama muslim, saya menolong tapi jangan harapkan saya bertindak heroic (seolah-olah begitu). Saya mungkin akan berdo’a saja… yang baik-baik untuk kalian saudara-saudari saya..

Sebenarnya jika sudah begini saya suka kebawa emosi…
Bagaimana pun dia masa lalu…
Bahkan saya sangat yakin masa kini pun kami tetap sama…
Apa-apa yang sudah dibangun (salah benar) sebagaimana yang ia sendiri tulis tidak hilang bahkan lekat dalam ingatan..
Ia mungkin marah karena ajakan (baiknya) saya tolak kemudian malah mengiyakan lamaran orang lain.
Atau mungkin marahnya ia adalah tidak adanya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sempat ada diantara kita.
Walau sama-sama diam, sama-sama malu, sama-sama gengsi untuk membicarakan hasrat yg masih ada atau tetap ada dan memilih untuk tidakpercaya diri atau dengan keras menolak untuk berfikir positif hingga wal hasil kita sama-sama menggubur keinginan yang ada.
Naifnya lagi kita sama-masa berasusmsi ada orang lain yang lebih pantas dan boleh jadi menjadi obatnya, andaikata begitu itu benar kenapa masih tidak ada undangan pernikahan yang kita antarkan? Saling menunggu kah?
Ragu-ragu….
Kenapa?
Yuk, kita berlapang dada…. Komunikasi aktif sehat sopan bersahaja… jika memungkinkan untuk menghilangkan miss-miss yang ada..
Umur kita tak lagi belasan… waktu semestinya sudah menghampiri kita untuk berubah kearah yang lebih baik…… yuk bicara…..yuk kita mendengar….

Ah tapi juga mungkin tidak bisa ya… karena terhalang oleh status saya yg telah dikhitbah….
Kata khitbah menjadi penghalang ya… halangan  untuk apa si? Apa ada niat membeli diatas belian orang lain… kenapa jadi menelisik hati ya…
Yah kok khitbah menjadi alasan untuk kejujuran..
Yah katanya alasan itu penting yah…
Yah…. biarlah